Terlewat
Terlewat
Penulis: Mania kara
“Hatiku tenang karena mengetahui bahwa apa yang melewatkanku
tidak akan pernah menjadi takdirku, dan apa yang ditakdirkan untukku tidak akan
pernah melewatkanku.”
-Umar Bin Khattab-
Terpisah
Kami pernah saling menjaga dalam perasaan yang terbuka. Kami saling
berbicara tanpa ada batas. Kami sering menghabiskan banyak waktu di taman
masjid kampus tanpa merasa risih dengan tatapan teman-teman yang lewat. Menurut
kami, komitmen kami sehat, kami tidak pernah bermacam-macam melanggar syariat
kecuali kedekatan hubungan kami ini. Kami tahu ini salah dan dilarang, tapi
rasa yang kami miliki mengalahkan iman kami.
Kami saling merindu jika kami tidak bertemu dalam waktu yang lama. Mas
Syifa biasanya datang menemuiku sekitar pukul setengah lima sore di taman atau selasar
masjid setelah kami mengajar TPA. Kami masih menjalin hubungan ini hingga
datang saat dimana dia menginginkan apa yang kami lakukan ini dihentikan.
“Fa, kita harus
mengakhiri hubungan ini, yang kita lakukan ini salah, hubungan ini dilarang sama
Allah.” Kalimat itulah yang pertama ia ucapkan saat aku baru saja datang
menemuinya di selasar masjid Babussyifa. Aku terdiam bingung dan tidak bisa
mencerna apa yang ia katakan.
“Saya harap
kamu setuju, saya pamit, Assalamualaikum.”
Mas Syifa pergi dan meninggalkanku termenung sendirian di selasar masjid.
“Waalaikumussalam warahmatullah.” Aku terdiam
sebentar dan mulai melangkahkan kakiku ke tempat wudhu akhwat, ku rasa air wudhu adalah hal pertama yang aku butuhkan
sekarang.
...
Keesokan harinya adalah hari keberangkatanku ke salah satu desa di Jawa
Timur. Ada satu acara bakti sosial yang ku ikuti di sana, menjadi relawan untuk
membantu masyarakat desa yang kurang mampu.
“Rin, aku
berangkat dulu, kamu baik-baik ya di sini, jangan lupa kangen sama aku!”
Kataku menggoda Rini, sahabatku sejak aku kuliah di kampus ini. Saat ini kami
ada di depan Masjid Babussyifa.
“Kamu jaga
diri baik-baik ya, anak-anak TPA pasti merindukanmu, apalagi si itu tu hihi.” Ucapnya
sambil menggodaku. Rini belum ku beritahu mengenai Mas Syifa yang sudah
memutuskan hubungan kami. Aku hanya tersenyum tipis menanggapinya.
“Aku
berangkat Rin, Assalamualaikum.” Ku
lambaikan tanganku padanya seraya berjalan menuju bus yang akan mengantarkan rombongan
relawan ke sebuah desa kecil bernama Pangguh.
Aku pergi sebenarnya bukan tanpa alasan, menghindarinya dan menjauh
mungkin akan mampu membuatku lupa dengan dia dan pesan mengecewakannya kemarin.
‘Saya
memutuskan ini karena sejak awal yang kita lakukan salah Fa, saya tidak ingin kamu
berdosa karena saya, saya tahu ini pasti berat, tapi saya bisa apa, saya sadar
hubungan kita dilarang Allah. Saya harap kamu mengerti. Jika memang di masa
depan kita berjodoh, saya yakin kita akan dipersatukan kembali dengan jalan
yang terbaik, saya ingin kamu tidak berharap lebih pada saya.’
“Permisi!” Ucap
seorang laki-laki menghentikanku membaca ulang pesan yang dikirim Mas Syifa
kemarin.
“Boleh aku
duduk di sini?” Aku hanya terdiam dan menganggukkan kepalaku ke bawah.
“Mbak, Mbak
namanya siapa?”
Aku menoleh
padanya untuk memastikan apakah ia berbicara denganku. "Masnya nanya
saya?"
“Iyalah Mbak,
siapa lagi?” Aku hanya tersenyum canggung. Aku memang kembali tidak fokus
setelah mengizinkan dia duduk, karena aku kembali membaca pesan dari Mas Syifa.
“Saya Saffa,
Mas sendiri?” Akan adil jika ada yang menanyai namaku, bukankah sebaiknya aku
juga meresponnya dengan ikut dalam pembicaraan, mungkin sejenak akan membuatku lupa.
Toh tujuanku pergi sementara waktu ini juga untuk menghilangkan dia dari
pikiranku.
“Alif, Alif Mubaraq,
kebanyakan orang memanggilku Alif. Huruf f nya jelas tidak boleh pake p.” Katanya
penuh penjelasan yang sebenarnya tidak perlu, toh aku juga tidak berminat untuk bertanya.
“Aku anggota
baru dalam rombongan ini, baru kemarin daftar, mungkin Mbak Saffa belum pernah lihat
aku di pertemuan sebelumnya, betul?” Ia menanyakan jawaban atas pertanyaannya,
aku pun mengangguk.
“Aku rasa
perjalanan ini akan menyenangkan, udah lama
aku gak keluar dari zona nyamanku.” Aku mengernyitkan dahi, sedikit terpancing
untuk ikut dalam pembicaraan, mungkin sebaiknya aku mendengarkannya dengan
baik.
“Mbak jangan
kesel ya sama aku, aku terbiasa bercerita walaupun itu dengan orang yang baru
ku kenal, gak pa pa kan?” Ia
tersenyum memandangku. “Iya, gak pa pa.”
Bus sudah
mulai berjalan meninggalkan kampus menuju Desa Pangguh yang akan menjadi tempatku
menyembuhkan hati, semoga bisa.
“Mbak, suka
dengan apa?”
“Maksudnya?”
“Makanan
maksudku, Mbak suka makanan apa, kalau aku suka sambal goreng kentang sama acar
mentimun, itu adalah makanan tersedap yang pernah masuk dalam perutku.” Aku
hanya tersenyum menanggapi ceritanya.
“Apa Mbak?”
“Apanya?”
“Suka
makanan apa?”
“Oh, makanan
enak dan yang penting hahal, saya suka Mas.”
“Mbak jangan
panggil mas dong, cukup Alif saja, okay, aku tidak lebih tua dari Mbak kan?” Aku
kembali tersenyum mengiyakan.
Bus sudah berhenti di depan rumah paling besar di desa ini, mungkin rumahnya
kepala desa. Mau ku gambarkan keadaan desa ini? Desa ini sangat hijau, sejuk
dan rindang. Banyak petani yang mulai menanam padi dan orang yang lalu-lalang
membawa bibit padi. Penduduknya ramah-ramah menyambut kami, memperlakukan kami seperti
keluarga mereka yang datang dari jauh, sungguh di sini membuatku seperti pulang
ke rumah.
Ibu kepala desa menyuguhkan berbagai makanan olahan rumah saat sarapan,
makan siang dan makan malam. Kami juga diberi sebuah tempat untuk rapat
koordinasi dan menginap. Penginapan perempuan terpisah. Kami menginap di rumah janda-janda
yang hanya tinggal bersama anaknya. Sengaja dibuat seperti itu agar kami para
perempuan bisa membantu beliau-beliau dalam mengurus rumah. Setiap dari mereka
juga menangani kami dengan sangat baik dan perhatian.
Aku tinggal dengan Ibu Hasna, seorang janda paruh baya yang tinggal
dengan anak laki-lakinya yang berusia 8 tahun.
“Nak Saffa, Ibu krungu dek bengi sampean ngaji, suarane
apik. Iso ora marai Ibu ngaji nduk? Ibu pengen iso ngaji, tapi nang kene ora
ono seng gelem marai.” (Ibu dengar kamu tadi malam ngajinya bagus, boleh
kamu ajarkan Ibu ngaji, Ibu ingin bisa baca Al-Qur’an tapi di sini jarang ada
yang mau ngajar ngaji.)
Aku
tersenyum. “Nggih Bu, kulo puron.” (Tentu
Bu, saya mau.) Ku lihat beliau menitikkan air mata dan kemudian memelukku hangat,
sungguh hidayah itu mudah sekali datang. Apa ini yang terjadi pada Mas Syifa? Entahlah.
Ku eratkan pelukan itu seakan beliau adalah orang yang sudah lama ku kenal dan sangat
aku sayangi.
Siang ini kami akan mengadakan rapat koordinasi pertama dengan penduduk
desa untuk memberitahukan beberapa program yang akan kami lakukan, seperti bersih
desa, aksi gemar menanam, aksi gemar membaca, taman pendidikan Al-Qur’an, serta
pelatihan kewirausahaan. Kebetulan aku mendapat jatah untuk menjadi penanggung
jawab taman pendidikan Al-Qur’an untuk anak-anak dan orang tua.
Mulai siang itu juga kami mempersiapkan semuanya, koordinator bersih
desa sudah membagi tugas kami dan besok pagi-pagi sekali kami akan membersihkan
sampah-sampah desa. Aku hari ini memiliki tugas untuk membersihkan mushola dan
menata TPA dengan tim ku. Sebenarnya tempat itu bukan mushola hanya sebuah
balai desa yang akan kami renovasi menjadi mushola. Tim ku berlima; Aku, Zain,
Alif, Atsna, dan satu orang lagi yang kata Pak kepala desa akan menyusul esok
hari. Perlu ku jelaskan, sebenarnya timku hanya empat, hanya saja Pak kepala
desa bilang bahwa anak sahabatnya akan ikut membantu saat libur dari kuliahnya.
Kami menyapu, mengepel dengan kain seadanya, membeli karpet di pusat
kota dan beberapa meja kecil serta alat tulis menulis. Kami berusaha membuat
tempat ini menjadi senyaman mungkin agar nantinya TPA berlangsung lancar.
Sore itu setelah kami membereskan semuanya dan berpisah untuk pulang ke
penginapan masing-masing, aku masih duduk menikmati senja di depan mushola.
“Assalamualaikum, Mbak Saffa, kenapa murung
gitu? Capek ya pasti abis beres-beres banyak, nih minum!” Suara itu dari Alif, ia
sengaja menyusul ke sini dan membawakan segelas teh hangat. Aku menerima dan
meminumnya.
“Terima
Kasih, Lip.” Ia melirikku sinis karena aku memanggilnya dengan huruf p diakhir
namanya, hahaha. Aku hanya berniat bahagia di depannya.
“Mbak please, namaku Alif, pake f, bukan p.
aku kan udah kasih tahu sejak awal kita kenalan.” Ia merajuk.
“Enakkan pake p, kagak ribet.”
“Enggak
boleh pokoknya tetep harus pake f,
aku gak suka ya Mbak, sini tehnya
kalau gitu!” Ia marah dan mengambil balik teh yang ia berikan tadi.
“Eits, janganlah!” Aku menjauhkan gelas
itu dari jangkauan tangannya.
“Iya ya Lif,
Alif.” Dia tertawa puas karena berhasil membuatku kalah.
“Ngomong-ngomong nih Mbak.” Ia memasang
wajah yang membuatku penasaran.
“Kenapa?”
“Mbak
kenapa, capek beneran ya?”
“Hih, aku kira apa, aku gak pa apa kok Lif.” Ucapku tersenyum
membohongi perasaanku sendiri.
“Terkadang
memang jarak akan menyiksa kita dengan kerinduan. Apalagi jika kita sudah jatuh
rasa terlalu dalam pada seseorang.” Dia mengatakan semua itu seolah mengerti
apa yang sedang ku pikirkan. Aku menoleh dan tersenyum melihatnya. “Lalu apa
yang harus kita lakukan untuk menghentikan rindu yang sebenarnya tidak boleh
ada?” Dia menatapku. “Seseorang itu harus ikhlas, udah sore aku pamit dulu ya Mbak,
Assalamualaikum.”
Aku masih menatap
tempat di mana Alif tadi duduk. “Waalaikumussalam.” Nafas kasar terasa begitu keras di atas bibirku.
Berjarak
Hari kedua akan kami mulai dengan bersih desa, aku membantu ibu-ibu
mempersiapkan makanan untuk penduduk yang bersih-bersih. Menuangkan teh panas,
menata gorengan dan roti, serta menyajikannya kepada mereka membuatku merasa
sangat nyaman dengan keadaan ini, sejenak pikiranku menjadi jernih.
Sore sekitar jam setengah empat kami mengajari bapak ibu untuk mengaji
dan setelah itu sholat maghrib berjamaah di mushola yang kami beri nama
Asy-Syifa, mirip namanya dan nama masjid di kampus kami. Itu bukan usulku tapi
persetujuan ketua relawan dengan warga desa.
Usai sholat jamaah, aku dan tim kembali melaksanakan kegiatan mengajar
di selasar. Beberapa mengajari anak-anak iqro’
dan sebagian mengajari mengaji untuk bapak dan ibu. Teman-teman yang bukan dari
tim kami juga membantu bekerja.
“Assalamualaikum semuanya, mohon maaf
mengganggu waktu kalian, saya ingin memperkenalkan satu lagi relawan yang akan
membantu di desa, mari nak silakan masuk!”
Kami semua
memperhatikan Bapak kepala desa memperkenalkan satu relawan lagi yang mungkin akan
bergabung dalam tim pendidikan, seperti kata beliau kemarin.
“Assalamualaikum Bapak Ibu Kakak dan Adik
semua, perkenalkan saya Syifa Inna Rizqi dari kampus yang sama dengan kakak-kakak,
kebetulan Pak kepala desa adalah sahabat ayah saya, dan ayah meminta saya untuk
membantu Pak kepala desa dan Kakak semua dalam membangun desa ini, semoga kita
bisa bekerja sama dengan baik.” Ucap relawan itu tegas dan ia akhiri dengan
senyuman terbaiknya, senyuman yang selalu membuatku seperti ini, terdiam
menatapnya tanpa berkedip. Runtuh sudah pelarianku, jika dia di sini tentu percuma
aku jauh-jauh ikut bakti sosial.
“Nak Saffa kemari!”
Astaghfirullah. Secara langsung kami
saling menatap.
“Fa.” Ucapnya
lirih dan terkejut mengetahui aku ada di sini.
“Baik, Pak.”
Aku mendekat dan berdiri di samping Mas Syifa. Beliau memperkenalkan ku kepada Mas
Syifa sebagai pemimpin tim pendidikan. Aku hanya terdiam dan sesekali merespon
kecil ucapan Pak kepala desa.
“Baik Paklik, in Syaa Allah, saya bisa bekerja
sama dengan mereka.”
Mulai saat itu kami bekerja selayaknya tim, bukan seperti orang yang
sebelumnya pernah dekat bahkan pernah saling mencintai. Kami hanya berbicara
sewajarnya dan selebihnya kami akan saling diam setelah TPA selesai. Beberapa
hari di sini, kami masih seperti itu. Saling bertemu tapi tak pernah saling
menyapa. Kami seperti orang yang saling membenci sehingga ada jarak yang
memisahkan kami.
...
Seusai TPA di hari ke-14 aku berjalan-jalan di sekitar pematang sawah.
Ku rasa di sini akan sedikit mengurangi bebanku. Setiap hari aku selalu
menghitung di hari ke-berapa aku di sini, rasanya aku ingin hari ke-45 segera datang
dan aku bisa pergi. Hari-hari yang pada awalnya membuatku tidak ingin
meninggalkan desa ini, sekarang membuatku sesak setiap hari.
Aku berhenti berjalan dan menepi di pinggir jembatan tepi sawah, airnya
jernih dan mengalir cukup deras, sedikit banyak gemericik air membuatku tenang.
“Niat awal
yang salah akan membuat seseorang tidak mendapatkan kebahagiaan.” Aku menoleh
untuk memastikan siapa yang berbicara di sampingku. Dia Alif.
“Apa
maksudmu mengatakan seperti itu Lip?”
“Ya ampun
Mbak, pake p lagi, f mbak f!”
“Iya, iya.”
Aku tidak berminat untuk meladeninya saat ini.
“Mbak udah deh, gak usah rahasia-rahasiaan lagi, aku bisa tahu isi pikiran Mbak, Mbak
ke sini untuk nghindarin Mas Syifa kan, eh malah Mas Syifanya nyusul. Aku emang
gak tahu apa yang terjadi diantara kalian, tapi sikap kalian di TPA sangat gak enak kalo aku perhatiin.”
Dia mengangkat tinggi-tinggi tangannya dan menarik nafas dalam-dalam
untuk menghirup udara segar di sekitar sungai. “Kalian saling mencintai tapi
bersikap seolah kalian adalah musuh yang saling punya dendam. Mbak kalau memang
Mbak masih cinta perjuangkan dong
mbak, jangan sedih-sedihan kek gini,
nangis mulu di sungai kasian tu airnya jadi kecampur sama air mata Mbak.” Dia
tertawa, mungkin maksudnya menghiburku, aku hanya bisa tersenyum dan memikirkan
ulang kata-katanya.
Mengulang Perjuangan
Seperti kata Alif, aku harus memperjuangkan apa yang seharusnya perlu
ku perjuangkan, dan setelah dua malam aku berpikir keras, aku harus melakukan sesuatu
agar hubunganku dengan Mas Syifa tidak seperti musuh yang tengah berperang. Awan
mendung sore hari Jumat menemaniku menemuinya di depan rumah Pak kepala desa.
Ku lihat dari jauh Mas Syifa tengah menyapu halaman depan rumah Pak kepala desa.
“Assalamualaikum.” Ucapku tepat saat
berada di belakang punggungnya.
“Fa, waalaikumussalam, kenapa?” Jawabnya
setelah berbalik menghadapku. Aku terpaku saat mata yang dari dulu selalu aku
rindukan itu menatapku dalam, seperti sekarang ini.
“Ayo kita
menikah!” Ucapku langsung pada intinya, ia hanya mengernyitkan dahi dan mencoba
mencerna perkataanku.
“Maksudnya Fa?
Kenapa kamu,”
“Ayo kita
menikah Mas! Dari dulu saya tidak pernah mengatakan kalo saya setuju jika kita harus
berpisah seperti ini, saya gak mau jika harus hidup dalam pikiran yang terus menganggu
saya. Akhir-akhir ini Mas sangat menjaga jarak dan kita seperti saling
bermusuhan.”
“Tapi Fa,”
“Mas Syifa
pernah mengatakan sama saya, jika di masa depan kita berjodoh, kita akan
dipersatukan dengan cara yang terbaik, dan menurut saya menikah adalah
satu-satunya cara, jadi menikahlah denganku!” Ku ucapkan dua kata terakhir itu
dengan menunduk dan menggenggam tanganku erat. Aku dan dia sama-sama terdiam
cukup lama. Aku menunggu jawabannya.
“Tidak Fa, saya
tidak bisa.”
Ku beranikan mengangkat kepala untuk melihat wajahnya. “Saya tidak akan
meminta untuk yang kedua kali, untuk itu saya membutuhkan jawaban sejelas
mungkin agar saya bisa menentukan arah hidup saya kedepannya, saya siap
mendengar jawaban apapun dari Mas.” Ucapku dengan kembali menunduk menahan air
mata yang sepertinya akan turun.
“Saya
tidak bisa menikah denganmu Fa.” Aku memejamkan mata cukup lama sampai aku
sanggup untuk menerbitkan senyum kembali dan mohon undur diri darinya.
Terluka, merasakan apa yang ku harapkan tidak sesuai dengan inginku.
Hancur tapi aku tak bisa menangis. Sungguh itu membuatku semakin lemah
menghadapi perasaan ini. Kami seperti langit dan bumi, berbeda. Berbeda dalam
hal tujuan, pikiran dan mungkin saja kami berbeda dalam perasaan. Mengapa ia
menolakku? Jika tidak mau berpacaran kenapa ia tidak mau menikah denganku? Tapi
aku juga tak dapat berbuat apa-apa. Jelas sudah dia menolakku. Dia tidak
menginginkanku. Aku harus menghilang darinya. Baiklah, memang benar tujuanku ke
sini adalah untuk menjauhinya, dan sekarang jelas aku sudah mendapatkan
tujuanku, aku benar-benar harus jauh bahkan menghilang darinya. Setidaknya aku
hanya perlu bertahan 29 hari lagi dan setelah itu pergi dengan jarak yang
benar-benar jauh nantinya.
...
Usai sholat maghrib, tim pendidikan dan penduduk mengaji bersama
kemudian sholat isya’ berjamaah, pada kegiatan malam ini aku tidak berkomunikasi
dengannya sedikitpun. Sampai aku pulang menuju rumah Bu Hasna, kami masih
saling diam. Aku berjalan menyusuri jalan desa sendirian karena kebetulan hari
ini Ibu Hasna sedang berhalangan untuk hadir di mushola.
“Mbak Saffa!”
Itu Alif, dia memanggilku cukup keras karena dia berada di jarak yang lumayan
jauh di belakangku.
“Kenapa Lif?”
Ku jawab panggilannya saat ia sudah bisa menyamai langkahku.
“Gak pa pa, cuma mau nemenin Mbak pulang.”
“Nggak baik,
ini udah malem, kamu cowok, aku cewek.”
Ucapku menyindirnya.
“Iya aku
tahu Mbak, tapi kasihan Mbak sendirian, biasanya sama Ibuk. Ibuk kemana?”
“Beliau di rumah,
biasa perempuan kan makhluk istimewa.” Ucapku memberitahu bahwa beliau sedang
berhalangan untuk sholat.
“Mbak, aku
jalan satu meter di depan Mbak ya, aku takut kalo harus deket Mbak
malam-malam begini.” Aku tersenyum, sungguh dia laki-laki yang sangat
menghargai wanita. “Iya.”
Menyala Kembali
Hari ke-45, hari terakhir ku di sini. Saat ini kami tengah berpamitan
dengan penduduk desa yang berkumpul di mushola. Satu per satu kami saling
berjabat tangan dan akhirnya kami berpisah. Aku memasuki bus yang sama dengan
bus yang dulu mengantarkanku ke sini. Entah semua penumpang bekerja sama atau
bagaimana, seakan semesta juga sudah mengizinkan bahwa kursi duduk hanya
tertinggal dua di dekat pintu dan dua orang terakhir yang belum duduk adalah
aku dan Mas Syifa.
Bus berjalan meninggalkan desa dan terpaksa
aku dan dia duduk bersebelahan. Kami saling terdiam. Aku tidak mengatakan
apapun dari awal dia duduk di sampingku. Ku tatap luar jendela agar aku bisa
untuk tidak menghiraukannya.
“Fa,”
tiba-tiba dia memanggilku.
Aku tidak
menoleh dan hanya menjawabnya dengan gumaman.
“Kamu marah
sama saya?”
“Tidak, saya
tidak marah dengan siapapun.” Aku menjawab tanpa memandangnya. Geram juga aku
padanya, apa dia tidak bisa merasakan bahwa aku sedang terluka.
“Fa.”
Panggilnya lagi
“Apa? Sudahlah
jangan aneh-aneh, jika ada yang mau Mas sampaikan, bilang aja. Saya capek.”
Ucapku tegas.
“Baiklah.
Kamu tidak boleh marah sama saya Fa, kamu juga tidak boleh menjauhi saya,
hubungan silaturahmi kita gak boleh
terputus, kamu ingat kan tentang hal itu?”
Aku tidak
menjawabnya.
“Saya belum
sempat untuk minta maaf sejak 29 hari yang lalu, mengenai ajakan yang pernah
kamu minta itu, saya minta maaf karena sudah menolaknya. Saya punya alasan yang
kuat. Saya belum cukup mapan untuk menjadi seorang suami. Kuliah saya belum
benar-benar selesai dan saya belum memiliki pekerjaan untuk menghidupi keluarga
kecil saya nanti, jadi saya mohon maafkan saya Fa.”
Aku tidak ingin menjawabnya, sungguh. Luka ini semakin terbuka lebar.
Aku tidak peduli dengan mapan tidaknya dia, aku hanya ingin aku dan dia bisa
menjadi kita tanpa jeda. Tanpa jarak dan melewati semuanya bersama.
“Fa?” Aku
memutuskan untuk pura-pura tertidur sehingga aku tidak harus menjawab
ucapannya. Bus akhirnya sampai ketika aku sudah terlalu lama berpura-pura
tertidur. Maafkan aku Mas. Pintu bus terbuka dan aku juga membuka mataku kemudian
buru-buru untuk keluar dari dalam bus. Aku berjalan cepat dengan membawa satu
koper dan tas punggung besar. Di belakang sana Mas Syifa memanggil-manggil
namaku, tapi aku tetap berjalan tak menghiraukannya.
“Hah, Fa
kamu jalannya kenapa cepet begitu,
ada yang harus saya sampaikan.” Jelasnya saat sudah bisa menghadang jalanku.
“Kenapa
Mas?”
“Bulan depan
saya wisuda, datanglah saya ingin memperkenalkan kamu ke orang tua saya secara
langsung. Kita tidak bisa menikah dalam waktu dekat bukan berarti kita tidak
bisa saling mengenal keluarga kita bukan?” Apa maksud perkataannya? Apa ini
berarti dia akan menikahiku suatu saat nanti, dan sekarang aku diminta untuk
mengenal keluarganya?
“Jadi
datanglah, saya akan menunggu kamu,
Assalamualaikum.”
Aku bisa
kembali tersenyum. “Wa’alaikumussalam
warahmatullah.”
Kembali Padam
Pakaian toga hitam terpasang sempurna di tubuh seorang pemuda. Tangannya
melambai pada seorang perempuan yang tengah berjalan ke arahnya. Ya itu aku dan
Mas Syifa.
“Fa, ke
sini!”
“Iya Mas.”
Ku berjalan lebih cepat untuk mendekatinya. Ada sepasang suami istri paruh baya
berdiri di dekat Mas Syifa. Apa mereka orang tuanya?
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumussalam warahmatulah.”
“Selamat
atas wisudanya Mas, ini hadiah buat Mas.” Aku memberinya sebuah kotak kado
berisi ukiran kayu berbentuk selempang yang diatasnya tertulis nama lengkap Mas
Syifa beserta gelar barunya.
“Wah, Alhamdulillah terima kasih Fa. Oh iya
ini kenalin. Beliau berdua adalah
orang tua saya. Ayah, Mama ini Saffa yang dulu sering Syifa ceritain.” Ia memperkenalkanku pada
kedua orang tuanya. Kami bersalaman dan kemudian aku menyebutkan namaku.
“Saffa Marwa”.
Kedua orang tua Mas Syifa hanya mengenalku melalui cerita Mas Syifa, kami belum
pernah bertemu sebelumnya. Walaupun dulu kami pernah berpacaran cukup lama.
“Bukannya
kamu mantan pacarnya Syifa nak Saffa?” Mama menanyakan hal yang sebenarnya
tidak pernah mau ku jawab.
“Mmmm, itu,”
“Ma, Saffa
ini pandai masak lho Ma, dia punya resto kecil-kecilan di belakang kampus, oh
iya ada masakan kesukaan Mama juga, nasi goreng ayam, iya kan Fa?” Mas Syifa tahu
jika suasananya mencekam sehingga ia harus mengalihkan topik berat ini. Syukurlah
terima kasih Mas.
“Bagus itu
nak Saffa, kapan-kapan saya bisa mampir ya?”
Aku pun
hanya tersenyum dan mengangguk kecil.
“Oh iya
calon istri kamu juga pandai masak lho Syif. Kemarin dia masakin Ayah kamu
makanan kesukaannya pas main ke rumah.”
Apa? Calon
istri?
“Apa Ma?
Calon istri? Sejak kapan Syifa punya calon istri, Mama jangan aneh-aneh deh,
maksudnya gimana Ma?”
“Ayah sama
mama sepakat untuk jodohin kamu sama Aisyah Syif, anak sahabat Ayah. Setelah
kamu lulus, kalian akan kami tunangkan. Kamu tidak boleh menolak, untuk soal
pekerjaan, kamu akan mewarisi perusahaan Ayah setelah kamu menikah.” Jelas Ayah
Mas Syifa membuat hatiku tergores kembali dengan luka yang dulu pernah ku
rasakan. Apa aku akan terjatuh kedua kalinya?
“Nak Saffa,
saya tahu kamu mantan pacar anak saya, tapi saya harap kamu berkenan datang ya
nanti saat pernikahan anak kami. Untuk undangannya nanti menyusul.” Ucap Mama Mas
Syifa dengan senyuman padaku seolah mereka memang tidak memahami betapa
hancurnya aku sekarang. Mas Syifa hanya memandang kedua orang tuanya tak
percaya dan melihatku bingung.
“Syif ayo
kita pulang! Besok kita akan ke rumah Aisyah. Kami pulang dulu
ya nak Saffa, terima kasih nak Saffa kamu udah jagain anak kami dari dulu
dengan sangat baik. Assalamualaikum.”
Mas Syifa tak bisa menolak ajakan orang tuanya, tangannya digenggam
mamanya dan bahunya dirangkul ayahnya untuk menuju mobil dan meninggalkanku
sendirian. Sama seperti dulu hanya bedanya sekarang aku tidak bisa tersenyum
dan air mata turun menyapaku setelah sekian lama.
Semoga kamu
bahagia Mas.
Huruf Hijaiyah Pertama
Pakaian toga di tahun berikutnya aku yang memakainya. Semua teman-temanku
dan keluarga mereka terlihat bahagia di depanku. Berfoto bersama, mendapat
hadiah dari orang-orang yang menyayangi mereka. Senyuman hingga tawa menghiasi
momen indah ini. Mungkin hanya aku satu-satunya orang yang paling bersedih.
“Aku udah
sms dia kasih tahu kalo aku wisuda hari ini Rin, apa dia gak baca ya?” Tanyaku
pada Rini yang merangkulku di depan jalan masuk auditorium. Rini hanya
mempererat rangkulannya padaku tanpa menjawab.
Tak ada orang yang kuharapkan datang hari ini kecuali Mas Syifa. Orang
tuaku saat itu sedang bersama orang tua Rini, jadi mereka tidak perlu melihat
putrinya sedang galau mengharapkan kedatangan seorang laki-laki yang sangat
dicintainya datang. Tapi mungkin harapan itu tak akan pernah terwujud.
“Assalamualaikum Mbak Saffa, hah,, hah.”
Itu Alif yang baru saja selesai lari ke arah kami berdua. Dia datang dengan
setelan jas berwarna hitam dan bermandian peluh.
“Waalaikumussalam, ya Allah kamu ngapain
lari-larian begini mana pake jas lagi?”
Cecarku saat dia tengah berusaha mengambil nafas di depanku.
“Aku tadi
dari depan kampus Mbak, mobil aku mogok, aku lari-lari takut kalo acara wisudanya selesai dan aku gak bisa nemuin Mbak.”
“Ada apa emang?”
“Sebentar
izinin aku ngambil nafas dulu ya.”
“Fa, setelah
ini kita langsung pulang ke rumah ya, kamu..?” Itu Ibuku, beliau mengarahkan
telunjuknya ke Alif.
“Saya Alif Mubaraq
Ibu, Bapak.” Ucapnya memperkenalkan diri pada kedua orang tuaku.
“Saya kemari
selain mau kasih selamat untuk Mbak Saffa, saya juga mau minta izin sama Bapak
sama Ibu.”
“Izin untuk
apa Nak Alif?”
“Saya ingin
menjadi suami dari Mbak Saffa Bapak, Ibu.”
Apa?
Kami semua
menatapnya tak percaya, terlebih aku. Apa maksudnya?
“Jika Mbak
Saffa berkenan dan Bapak sama Ibu merestui, saya akan segera datang untuk
melamar.” Ucapnya dengan serius. Aku masih menatapnya dengan penuh tanda tanya.
“Tentu
saja.” Bapakku tiba-tiba menjawab dengan jawaban yang membuatku tambah
tercengang. Aku tidak bisa mengatakan apapun saat ini.
“Tentu saja,
jika ada pemuda yang baik dan punya niat mau menikahi anak saya, kenapa saya
harus menolak, iya gak Bu?” Bapak menyenggol sikut ibuku.
“Iya, Ibu
juga setuju, tapi balik lagi ya nak Alif keputusan mau tidaknya biar Saffa
sendiri yang memutuskan. Kalau begitu Bapak sama Ibu pulang dulu ya Fa, Bapak
rasa kalian perlu waktu untuk bicara berdua, nak Rini ayo antarkan kami ke
bandara!”
“Sini kunci
mobilmu Fa, aku mau nganterin Ibu sama Bapak pulang.” Aku memberikan kunci
mobilku pada Rini. Mereka benar-benar meninggalkan aku dan Alif berdua di tengah
keramaian wisuda. Kemudian kami saling terdiam tanpa mengatakan apapun,
canggung melingkupi kami di tengah keramaian ini.
Oke baiklah
aku yang harus memulai percapakan.
“Aku tidak
mengerti maksud kamu apa kenapa tiba-tiba mengucapkan hal seperti itu di depan
orang tuaku tanpa memberitahuku sebelumnya Lif. Kamu bercanda kan?”
“Tidak Mbak,
aku serius. Aku gak tahu kapan pertama kali rasa ini muncul, tapi yang pasti perasaanku
sama dengan perasaan Mbak ke Mas Syifa.”
“Kenapa kamu
bawa bawa Mas Syifa dan perasaanku? Gak
ada hubungannnya dengan kamu.” Aku geram dengan sikap Alif yang suka berbuat
gak jelas seperti ini.
“Aku gak akan pernah maksa Mbak untuk nerima aku,
Mbak boleh menolak lamaranku jika Mbak gak bersedia, tapi jika suatu saat nanti
hati Mbak terbuka buat aku, aku ingin Mbak gak
ragu untuk nerimanya. Biarkan rasa itu mengalir tanpa halang. Aku pamit dulu ya
Mbak, oh iya aku belum jawab pertanyaan Mbak yang tadi, aku pake jas ini karena
hari ini aku ada tugas untuk jadi modetor seminar di fakultas, aku pamit ya Mbak,
sampai ketemu. Assalamualaikum.” Ia tersenyum
dan mulai berjalan dengan melambaikan tangannya padaku.
“Waalaikumussalam warahmatullah.” Ucapku
teriring nafas berat. Sungguh kejadian hari ini cukup membuatku berfikir keras
dan berharap keras. Kedatangan Mas Syifa yang sangat aku nantikan dan lamaran
Alif yang mengejutkan membuatku perlu waktu untuk menanyakan semuanya dengan
Dzat yang maha membolak-balikkan hati. Menyakan apa keputusan yang harus aku
ambil. Satu sisi masih menarikku dalam harapan kepada Mas Syifa, dan sisi yang
lain keberadaan Alif dengan lamarannya yang entah bagaimana aku harus menyikapi
nanti.
Jawaban Sementara
Alif benar-benar datang dengan orang tuanya dua hari setelah dia
meminta izin kepada orang tuaku kemarin. Aku juga sedang di rumah orang tuaku
karena kemarin ibu memintaku untuk segera pulang. Walaupun aku sudah lulus,
pekerjaanku di Surakarta masih menumpuk. Aku memiliki satu studio animasi, satu
restoran di belakang kampus dan statusku yang masih menjadi asisten dosen
membuatku masih harus berhubungan dengan kota yang terkenal dengan kemurahan
biaya hidup itu.
“Jadi
bagaimana nak Saffa, apa kamu bersedia menerima lamaran anak saya Alif?” Satu
pertanyaan sulit keluar dari ayahnya Alif. Aku harus menjawab bagaimana?
“Bapak sama
ibu tentu gak akan menerima Alif jika
dia bukan pemuda yang baik, maaf Bapak gak
kasih tahu kamu. Sebenarnya bapak sama ibu sudah kenal nak Alif dari satu
tahun lalu. Nak Alif datang ke rumah buat nglamar kamu, tapi kamu pernah bilang
sama ibu sama bapak kalo gak mau nikah
kalo kamu belum lulus. Makanya kami
minta nak Alif nunggu waktu yang tepat. Selama satu tahun ini kami saling
mengenal. Bapak yakin dia sangat pantas menjadi imam untuk kamu, Saffa.” Dan
yah itu bapakku, semua perkataan beliau membuatku benar-benar terkejut. Jadi
sejak satu tahun yang lalu Alif sudah melamarku dan dekat sama Bapak sama Ibu.
“Jawablah
dengan hatimu Nak!” Ibu mengambil tangan kananku untuk ia genggam dan itu memberiku
kekuatan yang besar untuk menjawab pertanyaan ini.
“Baik, in syaa Allah saya bersedia menjadi istri
Alif.”
Suara tahmid menggema di ruang tamu kami. Semua orang terlebih Alif
terlihat sangat bahagia. Setidaknya jika aku ingin bahagia, mungkin membahagiakan
orang lain bisa menjadi langkah pertamaku.
...
Satu bulan berlangsung cepat, tepat di tanggal 9 November 2021 kami
melangsungkan pernikahan. Saling berkomitmen dalam hubungan yang sangat mulia
dan semoga tidak akan membawa kami terjerumus dalam dosa. Kami memang tidak
pernah sedekat ini sebelumnya. Bahkan perasaan yang dulu aku miliki hanya untuk
Mas Syifa sekarang perasaan itu tergantikan oleh nama Alif Mubaraq. Nama yang
akan menjadi pemimpin barisan keluarga kami nantinya menuju Jannah. Benar dulu
kata Alif. Niat awal yang salah akan membuat seseorang tidak mendapatkan
kebahagiaan. Dan kini niat kami in syaa
Allah sudah benar. Mengarungi lautan dengan perahu yang sama dengan ketaatan
yang sempurna pada Ia, Sang maha segalanya. Terima kasih telah mengajarkanku
arti menghilangkan yang salah dan menjemput yang benar. Dan kebenaran terbesar
yang ku miliki sekarang adalah dia, Alif Mubaraq dengan segenap cintanya untukku
selamanya sampai Surga. Aamiinkan semogaku.
Selesai
pada 28 Januari 2019, 22:29.
Komentar
Posting Komentar